Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

EFEKTIVITAS DISINFEKSI KANDANG AYAM SAN BERDASARKAN PERUBAHAN ANGKA LEMPENG TOTAL BAKTERI UDARA

01/07/2026 13:31:07 Admin Satker 263

Anang Wahyu Nugroho1, 2, Eudia Christina Wulandari 2, Aris Budi Prasetyo2

 

1 Laboratorium Patologi Balai Besar Veteriner Wates

2 Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Boyolali

Email: [email protected]

 

Abstrak

Kualitas udara berperan penting dalam menjaga kesehatan ayam Spesifik Antibodi Negatif (SAN) sebagai penghasil telur untuk uji laboratorium. Meskipun biosekuriti diterapkan secara ketat, kontaminasi bakteri udara masih berpotensi terjadi sehingga diperlukan disinfeksi yang efektif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perubahan jumlah bakteri udara berdasarkan nilai Angka Lempeng Total (ALT) setelah penyemprotan disinfektan Bayclin serta menilai efektivitasnya pada kandang ayam SAN. Penelitian dilakukan di kandang ayam SAN Instalasi Kandang Hewan Percobaan Balai Besar Veteriner Wates menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua perlakuan, yaitu kandang kontrol tanpa penyemprotan (P0) dan kandang perlakuan yang disemprot Bayclin dengan pengenceran 1:10 (P1). Pengambilan sampel udara dilakukan selama delapan hari berturut-turut pada delapan titik di setiap kandang menggunakan Oxoid Air Sampler EM0100A dan dikultur pada media Plate Count Agar (PCA). Parameter lingkungan yang diamati meliputi suhu, kelembaban udara, pH litter, dan kadar amonia. Hasil penelitian menunjukkan jumlah bakteri udara lebih rendah pada kandang perlakuan, sedangkan parameter lingkungan tidak berbeda signifikan. Disimpulkan bahwa Bayclin efektif menurunkan bakteri udara dan pola ALT dapat digunakan sebagai dasar penentuan waktu disinfeksi ulang.

 

Kata kunci: Angka lempeng total, Ayam SAN, Bakteri udara, Bayclin, Disinfeksi

 

Abstract

Air quality is essential for maintaining the health of Specific Antibody Negative (SAN) chickens used for laboratory egg production. Despite strict biosecurity, airborne bacterial contamination remains a concern, requiring effective disinfection. This study aimed to evaluate changes in airborne bacterial counts based on Total Plate Count (TPC) values after Bayclin disinfection and to determine its effectiveness under SAN housing conditions. The study was conducted at the SAN chicken house of the Experimental Animal Housing Installation, Wates Disease Investigation Center, using a Completely Randomized Design with two treatments: a control house without disinfection (P0) and a treated house sprayed with Bayclin at a 1:10 dilution (P1). Air sampling was performed for eight consecutive days at eight points per house using an Oxoid Air Sampler EM0100A, and bacteria were cultured on Plate Count Agar (PCA). Temperature, relative humidity, litter pH, and ammonia levels were also recorded. The results showed lower airborne bacterial counts in the treated house, while environmental parameters did not differ significantly between treatments. It is concluded that Bayclin effectively reduces airborne bacteria in SAN chicken houses, and TPC trends can be used to determine appropriate re-disinfection intervals.

 

Keywords: airborne bacteria; Bayclin; disinfection; SAN chickens; total plate count

PENDAHULUAN

Kesehatan lingkungan kandang merupakan faktor krusial yang memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan ayam. Di Instalasi Kandang Hewan Percobaan (IKHP) Balai Besar Veteriner (BBV) Wates, ayam Spesifik Antibodi Negatif (SAN) dipelihara sebagai sumber telur yang digunakan untuk media uji laboratorium, khususnya untuk isolasi virus Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND) (Untari et al., 2017). Pemeliharaan ayam SAN dilakukan dengan sistem lantai tertutup (floor system) yang memungkinkan ayam bergerak bebas dan mendukung pengelolaan kebersihan, ventilasi, serta sirkulasi udara yang optimal (Untari et al., 2017). Sistem biosekuriti ketat diterapkan tanpa pemberian vaksinasi, sehingga ayam tidak memiliki antibodi terhadap penyakit tertentu. Namun, meskipun penerapan biosekuriti telah dilakukan, risiko kontaminasi bakteri tetap tinggi, terutama melalui pori-pori dan retakan pada kulit telur, yang dapat menurunkan mutu telur dan mengganggu keakuratan hasil uji laboratorium (Siwi et al., 2023; Rawung et al., 2022).

Beberapa penelitian sebelumnya telah menekankan pentingnya pengendalian bakteri di lingkungan kandang melalui penerapan disinfeksi dan pemantauan kondisi lingkungan. Insandi dan Siburian (2024) melaporkan bahwa penggunaan disinfektan berbahan aktif natrium hipoklorit secara rutin dapat menurunkan jumlah bakteri dan meningkatkan kesehatan ternak. Meze et al. (2022) menunjukkan bahwa natrium hipoklorit efektif menghambat pertumbuhan bakteri pada permukaan benda mati melalui mekanisme oksidasi, denaturasi protein, dan inaktivasi enzim. Widiastiti et al. (2023) menekankan bahwa efektivitas disinfektan dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, waktu kontak, metode aplikasi, serta keberadaan bahan organik yang dapat menghambat kerja disinfektan.

Selain penggunaan disinfektan, kondisi lingkungan kandang seperti suhu, kelembaban udara, pH litter, dan kadar amonia juga berperan penting dalam memengaruhi viabilitas dan penyebaran bakteri. Suhu dan kelembaban relatif yang stabil mendukung pertumbuhan bakteri mesofilik, yang optimal pada suhu 30–37°C dan kelembaban 40–80% (Rini dan Jamilatur, 2020; Ikhtiar et al., 2024; Purnomo et al., 2023). pH litter sekam padi yang netral hingga basa (7,09–7,45) memfasilitasi aktivitas bakteri, sementara kadar amonia udara di atas 20 ppm dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan mendukung keberlangsungan hidup mikroorganisme di udara kandang (Jaya et al., 2022; Azzahra et al., 2024). Penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa pemantauan faktor-faktor lingkungan ini penting untuk merencanakan strategi disinfeksi ulang yang efektif (Primandini dan Sugiyono, 2020; Jaya et al., 2022).

Meskipun berbagai studi telah meneliti efektivitas disinfeksi dan pengaruh kondisi lingkungan terhadap pertumbuhan bakteri, masih terdapat keterbatasan terkait pemahaman mengenai durasi efektivitas disinfeksi Bayclin terhadap Angka Lempeng Total (ALT) bakteri udara di kandang ayam SAN. Selain itu, integrasi pengukuran suhu, kelembaban, pH litter, dan kadar amonia dalam evaluasi efektivitas disinfeksi secara simultan masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada evaluasi pola kenaikan ALT bakteri pasca-disinfeksi dan hubungannya dengan kondisi lingkungan kandang, sebagai upaya untuk menentukan waktu optimal penyemprotan ulang disinfektan.

Berdasarkan uraian tersebut, tujuan kajian ini adalah mengevaluasi tren kenaikan ALT bakteri di udara setelah penyemprotan Bayclin pada kandang ayam SAN dan menganalisis pengaruh suhu, kelembaban udara, pH litter, serta kadar amonia terhadap pertumbuhan bakteri pasca-disinfeksi. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam merancang strategi disinfeksi ulang yang efektif untuk menjaga kualitas udara dan kesehatan ternak.

 

MATERI DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di kandang ayam Spesifik Antibodi Negatif (SAN) Instalasi Kandang Hewan Percobaan Balai Besar Veteriner Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada tanggal 11–18 Juni 2025. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam petelur White Leghorn umur ±40 minggu yang dipelihara dalam dua kandang, yaitu kandang kontrol tanpa penyemprotan disinfektan (P0) dan kandang perlakuan yang disemprot Bayclin berbahan aktif natrium hipoklorit 5,25% dengan pengenceran 1:10 (P1), masing-masing berisi 10 ekor ayam. Ayam dipelihara pada kandang lantai (floor system) berbentuk persegi berukuran 2,5 m × 2,5 m dengan alas sekam padi, ventilasi blower, dan pencahayaan lampu, serta diberi pakan komersial layer (KLK Super 45, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk) tiga kali sehari.

Sebelum perlakuan (hari ke-0), kedua kandang disiapkan secara seragam terkait jenis, umur, jumlah ayam, pakan, litter, ukuran kandang, ventilasi, dan pencahayaan, serta telah disemprot disinfektan satu minggu sebelumnya untuk menyamakan kondisi sanitasi awal. Pada hari ke-1, kandang perlakuan dibersihkan, litter diganti, ayam dipindahkan sementara, kemudian kandang disemprot Bayclin pada pukul 08.00 WIB, sedangkan kandang kontrol hanya dibersihkan tanpa penyemprotan disinfektan.

Sampel udara diambil setiap hari dari hari ke-0 hingga hari ke-7 pada delapan titik per kandang menggunakan Oxoid Air Sampler dengan volume pengambilan udara sebesar 10 liter per titik. Penentuan delapan titik sampling didasarkan pada luas kandang berukuran 2,5 m × 2,5 m (6,25 m²) sehingga pengambilan sampel dapat mewakili seluruh area kandang. Titik pengambilan sampel terdiri atas empat titik pada sudut kandang dan empat titik pada bagian tengah masing-masing sisi kandang. Sampel udara ditumbuhkan pada media Plate Count Agar (PCA) untuk menentukan Angka Lempeng Total (ALT) bakteri udara sesuai standar SNI 2332.3:2015 dan ISO 7218:2007, dengan inkubasi pada suhu 35–37 °C selama 24–48 jam dan penghitungan koloni menggunakan colony counter. Bersamaan dengan pengambilan sampel udara dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban udara menggunakan thermohygrometer, pH litter menggunakan pH meter digital dengan metode suspensi 1:20, serta kadar amonia udara menggunakan kertas uji amonia (ppm). Data dianalisis secara statistik pada taraf signifikansi 5%. Uji normalitas dilakukan untuk menentukan metode analisis lanjutan; data berdistribusi normal dianalisis menggunakan uji Independent Sample t-test, sedangkan data tidak berdistribusi normal dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, penyemprotan disinfektan Bayclin secara signifikan menurunkan jumlah bakteri udara (Angka Lempeng Total/ALT) di kandang ayam Spesifik Antibodi Negatif (SAN) dibandingkan kandang kontrol (P < 0,05), dengan rata-rata ALT pada P1 lebih rendah daripada P0 (Tabel 1). Penurunan ini dapat dijelaskan melalui mekanisme kerja Bayclin yang mengandung natrium hipoklorit, bersifat oksidatif sehingga mampu merusak dinding sel bakteri, menginaktivasi enzim, dan mengganggu metabolisme mikroorganisme hingga menyebabkan kematian sel (Widiastiti et al., 2023; Meze et al., 2022). Temuan ini sejalan dengan laporan Meze et al. (2022) bahwa larutan Bayclin pada konsentrasi 1–10% efektif menurunkan ALT bakteri udara.

 

Tren nilai ALT selama pengamatan menunjukkan bahwa pada P1 terjadi penurunan tajam dari 19.725 CFU/m³ pada hari ke-0 menjadi 7.550 CFU/m³ pada hari ke-3, sedangkan pada P0 nilai ALT meningkat dari 18.225 CFU/m³ menjadi 26.288 CFU/m³ pada hari ke-7 (Tabel 2, Ilustrasi 1). Hal ini menunjukkan bahwa Bayclin efektif pada fase awal pasca-aplikasi, namun efektivitasnya menurun setelah hari ke-3. Penurunan efektivitas tersebut diduga berkaitan dengan menurunnya konsentrasi klorin aktif sebagai bahan disinfektan seiring waktu setelah aplikasi, mengingat klorin bersifat mudah menguap (Estrela, 2002 dalam Meze et al., 2022). Selain itu, keberadaan bahan organik seperti litter kandang dan kotoran ayam dapat menghambat daya kerja desinfektan sehingga mengurangi efektivitas Bayclin dalam menekan pertumbuhan bakteri (Insandi dan Siburian, 2024).

 

Tabel 2. Rata-rata Nilai ALT Bakteri Udara (CFU/m³) pada P0 dan P1 Selama Periode Pengamatan

Hari Ke-

P0 (CFU/m³)

P1 (CFU/m³)

0

18.225

19.725

1

12.250

10.200

2

15.763

7.600

3

16.900

7.550

4

23.000

8.625

5

25.275

9.775

6

24.488

13.013

7

26.288

16.063

Keterangan: Nilai merupakan rata-rata hasil pengambilan sampel ALT bakteri udara setiap hari pada delapan titik pengambilan sampel di dalam kandang.

 

Keterangan: P0: Kandang Kontrol, P1: Kandang Perlakuan

Ilustrasi 1. Tren ALT Bakteri Udara pada Kandang Kontrol (P0) dan Perlakuan (P1)

Suhu kandang rata-rata tidak berbeda signifikan antara P0 dan P1 (30,125–30,250°C; P= 0,821). Suhu kandang pada kedua perlakuan berada dalam kisaran pemeliharaan ayam dan termasuk dalam rentang optimal pertumbuhan bakteri mesofilik (30–37°C), sehingga secara teoritis sama-sama mendukung aktivitas dan metabolisme bakteri udara (Rini dan Jamilatur, 2020; Purnomo et al., 2023). Oleh karena itu, faktor suhu bukan merupakan pembeda utama dalam jumlah bakteri udara antara kandang kontrol dan perlakuan. Penurunan jumlah bakteri udara pada kandang perlakuan lebih dapat dijelaskan melalui mekanisme kerja. Bayclin sebagai disinfektan, di mana natrium hipoklorit bekerja secara kimiawi melalui proses oksidasi, denaturasi protein, dan inaktivasi enzim yang merusak struktur sel mikroorganisme (Widiastiti et al., 2023; Meze et al., 2022; Wiediyan et al., 2024). Reaksi kimia tersebut berlangsung pada skala mikro dengan konsentrasi bahan aktif relatif rendah dan durasi singkat, sehingga tidak menghasilkan energi yang cukup untuk menimbulkan perubahan suhu lingkungan kandang yang terdeteksi.

Kelembaban udara juga tidak berbeda signifikan antara P0 dan P1 (75,875–77,625% RH; P = 0,529). Kondisi ini sejalan dengan mekanisme kerja Bayclin yang bersifat kimiawi dan tidak melibatkan proses fisik berupa penyerapan maupun pelepasan uap air (Widiastiti et al., 2023; Meze et al., 2022; Wiediyan et al., 2024). Selain itu, natrium hipoklorit dapat mengalami dekomposisi akibat pengaruh suhu, cahaya, dan paparan udara dengan menghasilkan klorida, klorat, dan gas oksigen tanpa menghasilkan uap air, sehingga tidak berkontribusi terhadap perubahan kelembaban udara lingkungan kandang (Sandin et al., 2015). Dengan demikian, variasi kelembaban selama penelitian lebih berkaitan dengan faktor lingkungan seperti ventilasi, sirkulasi udara, dan kondisi mikroklimat kandang (Purnomo et al., 2023; Arjani, 2011 dalam Purnomo et al., 2023). Rata-rata kelembaban udara pada kedua kandang berada dalam kisaran 40–80% RH yang dilaporkan mendukung viabilitas bakteri di udara dan keberadaan bioaerosol (Ikhtiar et al., 2024; Purnomo et al., 2023).

pH litter rata-rata mendekati netral (7,501–7,532; P = 0,904), konsisten dengan kondisi optimal pertumbuhan bakteri (Zuhro, 2020; Rini dan Jamilatur, 2020). pH litter dalam sistem pemeliharaan unggas dipengaruhi oleh akumulasi ekskreta ayam, dekomposisi bahan organik seperti asam urat dan sisa protein yang menghasilkan amonia bersifat basa, serta komposisi pakan, khususnya kandungan protein (Zuprizal, 2009 dalam Jaya et al., 2022; Jaya et al., 2022). Namun, karena kedua kandang memperoleh pakan dan bahan litter yang sama berupa sekam padi, pH litter relatif stabil dan tidak berbeda nyata antarperlakuan (Primandini dan Sugiyono, 2020). Selain itu, penyemprotan Bayclin dilakukan sebelum penebaran litter baru sehingga tidak berinteraksi langsung dengan litter selama pemeliharaan. Meskipun pH litter berada dalam kisaran yang mendukung pertumbuhan bakteri, jumlah bakteri udara pada kandang perlakuan tetap lebih rendah dibandingkan kandang kontrol, yang menunjukkan bahwa perbedaan ALT bakteri udara lebih dipengaruhi oleh efektivitas disinfeksi Bayclin dibandingkan variasi pH litter (Widiastiti et al., 2023).

Kadar amonia udara tidak berbeda signifikan antara P0 dan P1 (11,250–11,875 ppm; P = 0,736) dengan rentang 10–20 ppm selama periode pengamatan. Kisaran tersebut masih berada dalam batas aman bagi ternak, namun berpotensi mendukung aktivitas mikroorganisme di lingkungan kandang (Zuprizal, 2009 dalam Jaya et al., 2022). Amonia di kandang unggas terbentuk dari pemecahan nitrogen hasil metabolisme protein pakan yang tidak tercerna dan asam urat dalam ekskreta ayam melalui proses dekomposisi oleh mikroorganisme penghasil enzim urease pada litter (Primandini dan Sugiyono, 2020; Pereira, 2017 dalam Anggraeny, 2021; Jaya et al., 2022). Proses pembentukan amonia dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban litter, di mana peningkatan kedua faktor tersebut dapat mempercepat aktivitas mikroorganisme dalam mendegradasi kotoran ayam (Cemek et al., 2016 dalam Azzahra, 2024; Azzahra, 2024). Meskipun penyemprotan Bayclin efektif menurunkan ALT bakteri udara, perlakuan ini tidak memengaruhi kadar amonia karena pembentukannya terutama ditentukan oleh proses dekomposisi ekskreta di litter, bukan oleh bakteri yang tersuspensi di udara (Jaya et al., 2022). Hal ini menunjukkan bahwa penurunan ALT di P1 lebih dikaitkan dengan efektivitas Bayclin dalam menginaktivasi mikroorganisme dibandingkan pengaruh variabel lingkungan.

Secara keseluruhan, temuan penelitian menunjukkan bahwa penyemprotan Bayclin efektif menurunkan jumlah bakteri udara pada fase awal pasca-aplikasi, namun efektivitasnya menurun setelah beberapa hari sehingga diperlukan penyemprotan ulang untuk menjaga kualitas udara kandang. Hasil ini mendukung hipotesis penelitian bahwa Bayclin berperan signifikan dalam menekan populasi bakteri udara di kandang ayam SAN.

 KESIMPULAN

Penyemprotan disinfektan Bayclin berbahan aktif natrium hipoklorit terbukti memengaruhi dinamika jumlah bakteri udara di kandang ayam Spesifik Antibodi Negatif (SAN). Temuan ilmiah utama penelitian ini menunjukkan bahwa Bayclin efektif menekan jumlah bakteri udara pada fase awal pasca-disinfeksi, namun efektivitas tersebut bersifat sementara dan menurun seiring waktu. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa disinfeksi Bayclin menurunkan jumlah bakteri udara tetapi tidak bersifat permanen dapat diterima.

Perubahan jumlah bakteri udara pasca-disinfeksi lebih ditentukan oleh perlakuan disinfeksi dibandingkan oleh kondisi lingkungan kandang, yang relatif stabil selama periode pengamatan. Pola perubahan Angka Lempeng Total (ALT) bakteri udara mencerminkan adanya fase pemulihan populasi mikroba setelah aktivitas bahan aktif disinfektan berkurang, sehingga ALT dapat digunakan sebagai indikator ilmiah untuk menentukan waktu disinfeksi ulang yang lebih efektif dan rasional.

Sebagai implikasi praktis, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya penjadwalan disinfeksi ulang berbasis dinamika mikrobiologi udara, bukan semata berdasarkan interval waktu tetap. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengevaluasi variasi konsentrasi disinfektan, frekuensi aplikasi, serta integrasi metode disinfeksi lain guna memperoleh strategi pengendalian bakteri udara yang lebih optimal dan berkelanjutan pada kandang ayam SAN.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anggraeny, Tian. 2021. Pengaruh Jarak Inlet Terhadap Keseragaman Bobot Badan Ayam Pedaging Yang Dipelihara Di Closed House (Skripsi). Universitas Hasanuddin

Azzahra, R., Sulistiawati, E., & Cahyono, A. D. 2024. Efektivitas penyemprotan larutan EM4 (Effective Microorganism-4) terhadap penurunan kadar amonia pada kandang broiler semi closed house. Jurnal Peternakan Indonesia, 26(3): 113–119.

Badan Standardisasi Nasional. 2015. SNI 2332.3:2015 Cara uji mikrobiologi – bagian 3: penentuan angka lempeng total (ALT) pada produk perikanan [Standar Nasional Indonesia]. BSN. (Halaman 1–5, 10–11).

Berliana. 2016. Analisa bakteri udara sebagai upaya pemantauan dan pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit. Jurnal Husada Mahakam, 4(3), 141–150.

Ikhtiar, M., Syam, N., & Puspitasari, A. 2024. Mikroorganisme di udara dan gangguan kesehatan dalam ruang (hlm. 1–65). CV. Eureka Media Aksara.

Insandi, A. M., & Siburian, F. 2024. Inovasi desinfektan ekonomis untuk pengurangan biaya produksi pada usaha peternakan ayam kampung. Jurnal Pengabdian Sosial, 2(1), 2439–2446.

International Organization for Standardization. 2007. ISO 7218:2007 Microbiology of food and animal feeding stuffs — General requirements and guidance for microbiological examinations (hlm. 1–22). ISO.

Jaya, C. R. M., Riyanti, D. S., & Khaira, N. 2022. Kadar air, pH, suhu, dan kadar amonia pada litter di dua zonasi yang berbeda pada kandang closed house (Studi kasus di Closed house Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung). Jurnal Riset dan Inovasi Peternakan, 6(2), 129–135.

Meze, F. A. D., Sanam, M. U., & Utami, T. 2022. Studi literatur: Efektivitas dan keamanan penerapan desinfektan secara spraying untuk pencegahan penularan virus corona (MERS, SARS, dan SARS-COV-2). Jurnal Veteriner Nusantara, 5(1), 133-142.

Primandini, Y., & Sugiyono. 2020. Kondisi litter dan kasus foot pad ayam broiler yang dipelihara dengan alas kandang yang berbeda. Dalam Prosiding Seminar Teknologi dan Agribisnis Peternakan VII–Webinar: Prospek Peternakan di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19 (hlm. 421–428). Fakultas Peternakan Universitas Jen deral Soedirman. ISBN: 978-602-52203-2-6.

Purnomo, D., Setiawan, A., & Yusmaniar. 2023. Pengaruh faktor suhu dan kelembaban pada lingkungan kerja terhadap pertumbuhan dan perkembangan mikroba. Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, 9(2), 45–54.

Rawung, T. W. M., Maddusa, S. S., & Akili, R. H. 2022. Keberadaan Salmonella sp. pada telur ayam ras dari peternakan di Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal KESMAS, 11(2), 191–199.

Rini, C. S., & Jamilatur, R. 2020. Bakteriologi dasar (hlm. 1–46). UMSIDA Press.

Sandin, S., Karlsson, R. K., & Cornell, A. 2015. Catalyzed and uncatalyzed decomposition of hypochlorite in dilute solutions. Industrial & Engineering Chemistry Research, 54(15), 3767-3774.

Siwi, D. R., Pratiwi, R. H., & Noer, S. 2023. Analisa kandungan bakteri Salmonella sp. pada telur ayam dari pasar tradisional di Jakarta Selatan. Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi, 11(2), 1041–1049.

Untari, H. D., Suryanto, B. R., Famia, Z., & Suprihatin, S. 2017. Kebijakan penerapan kesejahteraan hewan di BBVet Wates serta keterkaitannya dengan peternakan rakyat dalam pengambilan sampel untuk uji laboratorium. Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Yoma 2020, (hlm. 3–10).

Widiastiti, I. M., Afsari, N. W. I., & Duniaji, A. S. 2023. Efektivitas disinfektan larutan pemutih (bayclin) dalam mencegah mikroba kontaminan pada inkubator di laboratorium mikrobiologi pangan. Jurnal Rekayasa dan Manajemen Agroindustri, 11(2), 262–269.

Wiediyan, W. M., Adzillah, W. N., & Ratnawati, K. 2024. Optimalisasi Dosis Sodium Hypochlorite Pada Instalasi Pengolahan Air Perusahaan Umum Daerah di Kota X. Jurnal Serambi Engineering, IX(4), 10620-10629.

Zuhro, S. K. 2020. Lingkungan fisik dan kualitas mikrobiologi udara di ruang operasi Rumah Sakit X di Kabupaten Situbondo (Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember) (hlm. 1–84). Universitas Jember Repository.